Kamis, 04 November 2010

Piano di tepi Pantai...........

Aku hanya menginginkan sebuah tempat tinggal di pinggir pantai, dengan ruang makan dibibir ombak yang kaki meja dan kursi selalu dibasahi oleh pasng surut ombak yang datang setinggi mata kaki. Disanalah kami makan, bersama, menikmati asinya garam yang membuat manisnya sayur dan daging ikan. Disebelah kirinya terdapat grup orkestra yang melantunkan musik dengan nada-nada klasik, tenang seperti angin laut di malam hari yang ditemani desir ombak yang berkejaran untuk kedalaman samudra. 100 meter dari sana kita dapat melihat rumah kecil yang begitu sederhana dengan sentuhan kayu meranti yang disusun bergaya adat budaya masyarakat pedalaman kalimantan. Rumah itu tidak kalah sederhananya dari masjid, taburan cat berwarna putih membuat mata segar saat menatap dalam, lebih dalam, mengundang kita untuk masuk kedalamnya. Di dalamnya terdapat seorang pangeran kecilyang lagi di dngengi oleh Ibunya dengan cerita-cerita raja terdahulu dari Yunani. Sebuah tebing menjulang menyaksikan, menjadi dinding yang kokoh sebagai pelengkap, di puncaknya yang datar terdapat sepasang kursi untuk minum kopi, disana kami ditemani secangkir kopi dan teh hangat, menghabiskan waktu saat cahaya merah jingga yang di taburkan oleh sang surya kepada para umat tuannya yang agung. Di iringi oleh piano yang melantunkan irama-irama romantis untuk sepasang merpati putih yang berterbangan dilangit yang biru. Mereka ditemani oleh seorang pangeran kecil yang membawa cinta dan kasih, yang lagi berayunan dengan menatap lepas ketengah samudera bagai seorang raja yang meresapi keinginan para rakyatnya agar raja tetap seperti dulu. Mereka menghabiskan hari dengan Bayuzara, seolah-olah hanya akan hidup untuk hari ini saja. Sebuah teman kecil dimana mereka dapat menghidupkan api untuk meresapi panas si jago merah yang lagi menggerogoti batang kayu kering, dimana asap-asapnya akan berteriak menyatakan kemenangan telah melebutkan kayu menjadi bubuk yang lembut dan rapuh. Malam itu begitu mesra dan romantis bagi sepasang insan kasih yang mengakhiri hidupnya, meninggalkan kenikmatan dunia. Hari esok tidakan datang dan dunia akan berhenti saat mentari pagi muncul. Malam ini adalah akhir dari semua, sebuah upacara kecil telah dilaksanakan ditandai dengan merahnya kepingan orang-orang yang menyala, dengan sorak gembira dari bunga-bunga taman agar dapat menjadikan sakralnya sebuah upacara ritual yang meriah. Bercumbu kasih sepasang kekasih dimalam terakhir, membuat kebahagian untuk hari ini dan manjadi masa depan telah hilang dan hancur. Rumah kecil itu memiliki segudang kenangan tanpa mimpi, disanan ada ciuman mama dan papa, disana ada tawaku saat bermain dengan papa, disana ada senyuman yang membuat manisnya makanan yang dibuatnya. Saatnya telah tiba semua harus berakhir, ruang makan tadi tidakan dapat ditempati. Diterjang ombak besar, sebagai kemurkaan laut kepada hamba tuannya yang agung. Orkestra itu telah pergi meninggalkan semua alat-alat musik mereka yang tersusun abadi tanpa adalagi suara yang dikeluarkannya. Alat musik itu akan menjadi pelengkap kehancuran. Semua berlalu begitu cepat, saat saya berdiri dari kejauhan menatap semua yang terjadi dimasa lalu. Sebuah cinta, kasih, sayang yang ada dirumah itu menjadi kenangan manis. Cinta, kasih, sayang telah melahirkan kebahagiaan dalam hubungan dua insan. Tawa, canda, lahir pada pangeran kecil itu. Kebersamaan, belaian, ciuman manis, lahir dalam keluarga itu dengan tulus. Tangisanpun tak terhindarkan, air mata mengalir di pipi, perlahan yang menyebabkan goresan dalam hati, penyiksaan dengan perlahan bagai air mata itu, jiwaku berteriak dan meronta. Aku selalu berdiri dari kekacauan, tidak akan kembali melangkah dan menyentuh itu semua. Semakin dekat dan terus mendekat akan membuat sayatansayatan itu semakin dalam.

Tidak ada komentar: